KEBANGKITAN (SEPAK BOLA) DARI SIDAMULYA SELATAN

Si Doel Fc, dalam sebuah catatan.

Tentu selatan kali ini beda dengan misalnya saja : laut selatan. Juga selatan disini tidak ada hubunganya dengan sesuatu klenik apapun. Ini hanya tanda bahwa secara teritorial, wilayah kami berada di ujung paling selatan diantara wilayah dusun tetangga yang lain. Lalu apa yang dimaksud dengan kebangkitan diatas? Ini juga tidak serem-serem amat. tapi, ini tidak main-main, ini tentang kebangkitan sepak bola di dusun kami. Bahwa, beberapa pemuda mulai bangkit lewat permainan sepak bola, tentu kita tahu, sepak bola adalah permainan, tapi kan biar bagaimanapun yang namanya permainan tidak boleh diselenggarakan secara main-main, atau setengah main-main. Dan, tentu yang namanya kebangkitan bisa masuk melalui pintu mana saja dong, bisa pintu sepak bola, pintu badminton, pintu mana saja yang penting punya kadar positif.

Kembali ke sepak bola, wa bil khusus sepak bola di dusun kami yang sempat vakum dalam beberapa turnamen RW-an. Apakah sepak bola di dusun kami secanggih misalnya : LSI, LPI, Seri-A, atau Liga Champion? Jawabanya bisa berbagai macam bentuk jawaban tergantung dari sudut pandang mana menjawabnya. Kalau secara materi, mungkin jaraknya seperti langit dengan bumi antara sepak bola-sepak bola canggih di atas dengan sepak bola dusun kami. Mulai dari seragam, pasti sudah sering lihat di media-media kalau seragam mereka mewah-mewah, harganya mahal, harus sesuai dengan standar sepak bola international. Sementara sepak bola dusun kami seragam di buat secara patungan. Terus harganya? Jangan Tanya harga, nanti bisa sedih dibuatnya. Soal sepatu, kabarnya sepatu yang dipakai pemain dunia sekelas Messi harganya miliaran rupiah, sekelas Bambang Pamungkas saya belum dapat info, tapi, pasti mahal. Sementara pemuda-pemuda di dusun kami memperoleh sepatu dengan cara pinjam-meminjam, iya, betul, pinjam teman atau kalau bapak masih punya ya pinjam bapak. Hal yang saya tulis diatas bukan dalam rangka agar supaya PSSI daerah maupun pusat memberikan sepatu, seragam, atau segala perangkat alat sepak bola secara gratis, tapi kalau PSSI dengan berbesar hati melakukan hal tersebut itu akan lebih baik dan saya bersyukur sedalam-dalamnya lahir batin. Itu kalau dilihat dari sisi materi. Ini yang paling penting : diluar materi, pemain-pemain muda kami punya beribu-ribu semangat, punya prinsip persatuan, juga prinsip sepak bola mereka bukan prinsip transaksional seperti dewasa sekarang. Prinsip mereka lebih mengedepankan keakraban, kekeluargaan, kesenian yang tinggi yang memproduk guyonan-guyonan yang menyegarkan. Untuk apa kalau sepak bola tidak menyegarkan, untuk apa kalau sepak bola tidak membahagiakan, iya kan?

Beberapa teman, saudara, ada yang protes. “Ah, dari desa saja disebut kebangkitan”,. Lho jangan salah, dalam suatu forum di Jogja, tepatnya setiap tanggal 17 setiap bulannya, mocopat syafaat namanya, persis bulan Juli lalu, Indra Sjafrie pelatih U-19 mengatakan bahwa, “ Sebagaian besar pemain termasuk pelatih dan officialnya merupakan orang-orang yang berasal dari desa, orang-orang yang pada waktu kecil dulu juga mandi di kali”,. Juga dalam perekrutan pemain, Coach Indra lebih memilih bibit-bibit unggulan yang diperolehnya dari menyaksikan pertandingan di desa-desa dari pada yang sudah di paket dari PSSI karena cara tersebut jauh lebih jujur dan sportif. Hasilnya, Evan Dimas, Syahrul, Maldini, dan segenap tim U-19 mampu membangkitkan Indonesia melalui sepak bola. Sepak bola Indonesia yang orisinil yang tidak mengkiblat ke Argentina, Jerman, Itali, dsb melainkan sepak bola-nya Indonesia. Jadi, tidak berlebihan dong kalau ini disebut kebangkitan? Dan tidak berlebihan juga suatu waktu nanti saya yakin akan ada pemain nasional yang berasal dari desa saya.

Lalu, Di sisi mana kebangkitanya? Nanti dulu, sebentar saya antarkan untuk setidaknya memotret kebangkitan sepak bola dari dusun kami. sudah siap untuk memotret dimana letak kebangkitanya? Ini dia, potret-lah secara close-up kebangkitan sepak bola dari dusun kami :

Jadi, kemarin sore itu dusun kami Si Doel (Sidamulya Kidul) FC menang dari Sidamulya Utara (Gemawang FC) dengan skor 3-0…[]

(Ditulis setelah sms salah satu teman mengabarkan bahwa dusun kami menyudahi pertandingan dengan kemenangan. pencipta gol : Alfin, Gatoel, Roma)

Jogjakarta, 10 Agustus 2014

Naskah : Afif Amrullah

Foto : Agus Purwanto