Kesenian, Sebagai Upaya Menghiasi Dusun Kejabur dengan Keindahan

Salah satu perintah Allah mengenai Al-qur’an adalah “Zayyinul qur’an biashwatikum”, hiasilah al-qur’an dengan suaramu. Al-qur’an adalah firman Allah, sementara itu, firman Allah ada yang berupa kalimat, alam semesta dan kehidupan itu sendiri. Cacing yang menggeliat pada suatu tanah, ayam yang berkokok pada suatu pagi, pohon yang tumbuh di pojok sebuah desa, angin yang menyapa dedaunan pada suatu sore, hujan yang mengguyuri bumi itu semua adalah firman Allah.

Begitu juga dengan Kejabur sebagai sebuah Dusun. Ia adalah firman Allah, kebesaran Allah yang menurunkan Kejabur bagi kita semua, mengkaplingkan sebagian bumi-Nya untuk kita singgahi, melangsungkan kehidupan dalam berbagai macam kegiatan. Jadi, menghiasi Kejabur dengan keindahan adalah suatu keharusan.

Dengan berkesenian, itu merupakan salah satu upaya mewujudkan perintah Allah Yang Maha Indah, untuk menghiasi Dusun Kejabur dengan keindahan. Selain itu, seni juga merupakan ekspresi rasa syukur yang kita persembahkan kepada-Nya. Syukur bisa hanya diucapkan dengan mengucapkan Alhamdulillah, juga akan lebih baik jika juga dilaksanakan dengan berbagai macam bentuk kegiatan. Lha wong sudah diberi potensi kok, kenapa tidak dimanfaatkan, iya kan?. Mumpung pembagian potensi masih berjalan , maka, tidak ada salahnya mencoba terus menggalinya lewat pintu yang bernama kesenian.

Sejak usia dini, sejak masih belajar turutan, atau iqro masih jilid satu, di Kejabur sudah di kenalkan dengan kesenian. Misalnya : seni tari, hadroh, dan baca puisi. Sejak itu, adik-adik generasi penerus sudah di ajarkan berkomunikasi lewat seni, dikenalkan dengan kekompakan, kebersamaan, dan kedisiplinan lewat seni. Dengan demikian, ketika nanti bertumbuh dewasa, adik-adik generasi penerus sudah terbiasa membangun kekompakan, kebersamaan dan kedisiplinan bersama-sama. Dan, Itulah keindahan.[]